berita

Pada tanggal 10 Februari 2017, The Habibie Center mengadakan soft launch program terbarunya, CERITA – Community Empowerment in Raising Inclusivity and Trust through Technology Application.

Kegiatan soft launch ini dibuka oleh Rahimah Abdulrahim selaku Direktur Eksekutif The Habibie Center, yang menjelaskan latar belakang dibentuknya program CERITA. Meningkatnya intoleransi dan radikalisme, yang disebabkan secara langsung maupun tidak langsung oleh persebaran informasi yang begitu cepat terutama melalui media sosial, merupakan sebuah isu yang dapat mengancam persatuan antar masyarakat di Indonesia.

Pertentangan pendapat dan pemikiran di media sosial kini semakin meruncing, yang kemudian memecah masyarakat ke dalam kluster-kluster yang saling berlawanan dan memicu maraknya ketegangan dan kekerasan yang didasarkan atas sentimen terhadap perbedaan. Menurut penjelasan Rudi Iskandar, Associate Fellow di The Habibie Center, ini adalah salah satu alasan dibentuknya program CERITA.

Dalam pelaksanaan program CERITA, The Habibie Center juga bekerjasama dengan Stephen Shashoua, pendiri Plan C: Culture and Cohesion, dan Abdul-Rehman Malik, manajer program Radical Ways. Keduanya merupakan sosok yang aktif dalam bidang keberagaman di masyarakat. Stephen menceritakan bagaimana situasi kehidupan di Kanada, tempat lahirnya, yang begitu beragam, dan menggambarkannya sebagai sebuah mosaik budaya (cultural mosaic). Stephen dapat melihat keberagaman yang sama di Indonesia, yang begitu kaya dengan perbedaannya, dan menyatakan harapannya agar CERITA dapat turut menyebarkan kebaikan.

Abdul-Rehman, yang juga seorang pecinta kopi dan pencipta podcast “The Muhammadan Bean”, mengatakan Indonesia masih menjadi model untuk keberagaman budaya dan toleransi. Menurutnya, saat ini kita sedang melihat meningkatnya berbagai bentuk intoleransi di seluruh dunia, yang terjadi atas berbagai alasan.

Program CERITA, didukung oleh Google.org, bertujuan untuk mempertemukan anak muda Indonesia dari berbagai latar belakang, memfasilitasi dialog dan lokakarya untuk mereka di tempat-tempat independen seperti warung kopi dan museum, dan untuk mendorong mereka agar dapat membagi cerita dan pengalaman hidup dalam keberagaman di lingkungan masing-masing.

Program CERITA akan mulai dilaksanakan pada bulan April 2017 di lima kota, yaitu Jakarta, Bandung, Malang, Yogyakarta, dan Solo. Di akhir program, sebuah platform digital akan diluncurkan, dimana seluruh peserta dapat menuangkan cerita dan pengalaman keberagaman yang mereka miliki melalui video dalam balutan konsep city tour.

Para pembicara berharap nantinya video-video dalam aplikasi CERITA akan kaya dengan berbagai cerita dari orang-orang dengan berbagai macam latar belakang, dan akan menumbuhkan rasa saling mengenal dan saling percaya di antara masyarakat. Dari sini akan terbangun rasa empati yang kuat di antara masyarakat, yang pada akhirnya akan menyingkirkan berbagai sentimen anti-perbedaan yang belakangan banyak menjangkiti masyarakat Indonesia.

Para undangan yang hadir dari berbagai lapisan masyarakat, seperti blogger, lembaga non-pemerintah, akademisi, dan media menyambut baik dibentuknya Program CERITA. Banyak sekali peluang kerjasama yang dapat dijalankan dengan berbagai lembaga, misalnya dengan mengintegrasikan Program CERITA ke dalam berbagai program lainnya untuk lebih memperkaya dan memperkuat hasil yang ingin dicapai.

 

berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

'