berita

Pemerintah Indonesia bercita-cita untuk menjadikan Indonesia sebagai “The Digital Energy of Asia.” Hal ini dilatarbelakangi oleh pertumbuhan pesat ekonomi digital Indonesia terutama dalam bidang e-commerce. Berdasarkan data perusahaan riset global McKinsey, Indonesia merupakan salah satu pasar e-commerce yang bertumbuh paling pesat di dunia. Pada 2025, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia akan bertambah setidaknya Rp 2.000 triliun dari sektor ekonomi digital.

Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, menangkap potensi tersebut dan memberikan arahan agar pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dapat mencapai 11% dari total produk domestik bruto (PDB) pada 2020 atau sekitar US$ 130 Miliar. Target tersebut terbagi ke dalam tiga fokus utama yaitu ekonomi sharing (berbagi), pengentasan UMKM (usaha mikro kecil dan menengah), serta inklusi keuangan. Rudiantara pun mengingatkan bahwa ke depannya ekonomi Indonesia tidak akan lagi berfokus pada Sumber Daya Alam (SDA) namun beralih ke basis layanan (services). Oleh karena itu, dunia usaha yang masih menggunakan cara-cara konvensional diharapkan mulai mengadopsi basis digital agar tidak tergerus dengan perkembangan teknologi.

Kendati demikian, terdapat beberapa persoalan yang berpotensi menghambat pertumbuhan e-commerce di Indonesia. Diantaranya adalah permasalahan pembayaran. Selama ini masyarakat Indonesia belum terbiasa dengan transaksi keuangan non-tunai, kecuali transfer bank via ATM. Indonesia pun dianggap belum mampu menghasilkan produk buatan lokal yang kompetitif dan meningkatkan angka jasa logistik. Sehingga Indonesia hanya akan berakhir sebagai pasar e-commerce bukan produsen. Sayangnya, saat ini perkembangan bisnis e-commerce justru lebih banyak dinikmati pengusaha asing. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya perusahaan e-commerce di Indonesia yang kepemilikannya berpindah tangan kepada pemodal asing.

Terkait hal-hal tersebut, Institute for Democracy through Science and Technology – The Habibie Center (IDST-THC) turut berkepentingan untuk mencari solusi dari persoalan bisnis e-commerce Indonesia, sehingga diharapkan kedepannya berbagai peluang yang dimiliki oleh Indonesia dalam bisnis e-commerce dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh rakyat Indonesia. Dengan demikian cita-cita menjadi “The Digital Energy of Asia” dapat terwujud dan memberi manfaat bagi bangsa dan
negara.

Pembahasan lebih lanjut terkait hal tersebut, hari Selasa tanggal 30 Mei 2017, bertempat di Gedung The Habibie Center lantai 3 dalam diskusi publik “TechTalk #4 : E-Commerce, Menjaga Pasar Sendiri”. Diskusi menghadirkan Ilham A. Habibie (Ketua IDST – The Habibie Center, Dewan TIK Nasional), Mira Tayyiba (Asdep Peningkatan Ekonomi Daya SainKawasan, Kementerian Koordinator Perekonomian), Jonathan Sofian Lusa (Wakil Ketua Bidang Penelitian dan Satndarisasi Asosiasi E-Commerce Indonesia), Achmad Zaky (CEO Bukalapak.com), dan Anang Fauzie (General Manager E-Banking Division Bank BNI) sebagai pembicara serta Estananto (Sekretaris IDST- The Habibie Center) sebagai moderator.

berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

'