berita

Jakarta – Pada hari Selasa, 17 September 2013, The Habibie Center menyelenggarakan dialog publik Talking ASEAN dengan tema “U.S. Rebalancing to Asia and Chinese New Leadership : Challenges for ASEAN Centrality and its Implications on Neighbouring Countries” yang bertempat di gedung The Habibie Center, Jakarta. Talking ASEAN kali ini menghadirkan Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar (Direktur, Institute for Democracy and Human Rights, The Habibie Center), Dr. Tsai Ming-Yen (Professor, Graduate School of International Politics, National Chung-Hsing University), Drs. Makmur Keliat Ph.D. (Dosen, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Indonesia) dan Dr. Santo Darmosumarto (Staf Khusus Kepresidenan Republik Indonesia bidang Hubungan Internasional) sebagai pembicara dan dimoderasi oleh Dr. Alexander C. Chandra (Trade Knowledge Network IISD). Tujuan dari dilaksanakannya Talking Asean kali ini adalah : (a) mendiskusikan tantangan dan peluang ASEAN Centrality, (b) mengeksplorasi posisi Amerika Serikat dan menguji implikasi strategi rebalancing terhadap ASEAN Centrality, (c) mengeksplorasi posisi China – di bawah kepemimpinan baru  Presiden Xi Jinping terhadap ASEAN Centrality, (d) membahas implikasi ASEAN Centrality, rebalancing A.S. dan kepemimpinan baru China terhadap negara-negara tetangga di kawasan, (e) memberikan saran dimana ASEAN Centrality dapat dipertahankan dan diperkuat di tengah rebalancing A.S. dan kebangkitan China.

Drs. Makmur Keliat, Ph.D. mengawali diskusi Talking ASEAN dengan menjelaskan bahwa strategi rebalancing A.S. di Asia juga merupakan upaya untuk menyeimbangkan pengaruh China di Asia Pasifik. Strategi rebalancing A.S. di kawasan Asia meliputi : memperkuat aliansi, memperdalam kemitraan dengan negara-negara berpengaruh di kawasan, membangun hubungan yang stabil, produktif dan konstruktif dengan China, melakukan penguatan institusi regional, dan membantu membangun arsitektur ekonomi regional yang dapat menjamin  pemerataan kesejahteraan. Ia juga mengangkat bagaimana posisi ASEAN terhadap dua kekuatan raksasa tersebut, apakah akan memilih bekerjasama dengan A.S. atau China? Dalam ASEAN Centrality, ia menjelaskan bahwa ASEAN memiliki masalah dengan perkembangan terakhir dari perjanjian perdagangan dikarenakan terdapat dua kerjasama di kawasan ini yaitu : RCEP dan TPP. Ia menekankan jika terjadi pertentangan diantara keduanya apa yang akan dilakukan ASEAN? Ia kemudian memberikan opsi bahwa apakah ASEAN akan menjalin persahabatan berdasarkan bisnis atau menjalankan bisnis berdasarkan persahabatan.

Dalam penyampaiannya, Dr. Tsai Ming-Yen menjelaskan bahwa ASEAN Centrality merupakan hal yang sangat penting di tengah dinamika mitra eksternal. Hubungan ekonomi-politik ASEAN seharusnya bersifat inklusif untuk negara kecil dan negara tetangga. Ia menyatakan bahwa ASEAN harus menghidupkan kembali konsesus diantara negara anggotanya. ASEAN juga seharusnya membangun hubungan yang saling menghargai. Oleh karena itu, ia menekankan akan pentingnya kerjasama ekonomi diantara negara anggota ASEAN dan negara tetangga dalam upaya membangun kawasan Asia Pasifik yang damai dan stabil. Dr. Santo Darmosumarto kemudian memberikan perspektif lain dalam diskusi ini, ia menjelaskan bahwa pada awalnya China merasa tidak nyaman dengan kehadiran ASEAN dikarenakan pendekatan China yang tidak menggunakan pendekatan multilateralisme. Namun seiring berjalannya waktu, China menjadi nyaman dengan ASEAN dikarenakan ASEAN mendukung China dalam banyak terutama kerjasama ekonomi, dimana jumlah perdagangan dan investasi China di negara-negara ASEAN semakin membesar. Ia kemudian menjelaskan  bahwa konsep ASEAN Centrality menandakan bahwa ASEAN harus bersikap netral. ASEAN harus bersikap satu suara ketika menghadapi masalah ekonomi atau keamanan. Dalam pengembangan regionalisme, ASEAN Centrality harus dijaga sebagai prinsip dalam hubungan internasional.

Prof. Dr. Dewi Fortuna Anwar memaparkan bahwa ASEAN Centrality memiliki tiga lapisan : state of mind, making policies dan enhancing capacity. ASEAN Centrality memiliki baik dimensi internal maupun dimensi eksternal. Ia juga menjelaskan bahwa ASEAN Centrality menjadi relevan karena ASEAN selalu menjadi kekuatan pendorong di kawasan. Ia kemudian menyoroti lemahnya persatuan negara-negara anggota ASEAN, menurutnya hal ini terjadi karena negara-negara Asia Tenggara telah menjadi obyek kolonialisme dan hegemoni dari negara adidaya. Ia menyarankan bahwa negara-negara di kawasan ini harus bersatu agar bisa memutuskan keputusan yang terbaik. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah ASEAN akan melakukan bandwagon atau memilih menjadi aliansi? Ia berpendapat seharusnya ASEAN tidak menjadi pengikut dalam kondisi ini. Terkait persatuan negara-negara ASEAN, ia berkomentar bahwa persatuan ASEAN mungkin terjadi jika memiliki fokus, bagaimana saling menguatkan dan bekerja sama antara satu dengan lainnya. Ia kemudian menekankan mengenai pentingnya relevansi strategis ASEAN, yaitu ketika negara-negara anggota dapat memprioritaskan peran sentral dari ASEAN.

Dialog kemudian beralih kepada sesi tanya jawab yang mempersilahkan para pembicara mengambil dua termin pertanyaan dari para peserta. Diantara banyak isu yang diangkat adalah : apakah China dapat menjadi negara adidaya yang melebihi kekuatan A.S. di kawasan Asia Tenggara; apa yang menjadi prioritas kepentingan China di kawasan; apakah ASEAN mampu mempertahankan progresivitasnya dalam ASEAN Economic Community; dan adanya masukan agar ASEAN dapat memainkan peran permainan ekonomi kawasan dengan lebih asertif.

Talking ASEAN “U.S. Rebalancing to Asia and Chinese New Leadership : Challenges for ASEAN Centrality and its Implications on Neighbouring Countries” ini merupakan salah satu dialog dari rangkaian dua belas dialog rutin yang diadakan oleh The Habibie Center setiap bulannya.

berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

'