berita

Jakarta, 30 Maret 2015

Talking ASEAN kali ini kembali diselenggarakan di gedung The Habibie Center dengan moderator A. Ibrahil Almuttaqi (Kepala ASEAN Studies Program, The Habibie Center) dan menghadirkan panelis berpengalaman di bidangnya seperti Dr. Felix Heiduk (Peneliti, German Institute for International and Security Affairs – Stiftung Wissenschaft Und Politik), Dr. Kusnanto Anggoro (Dosen, Universitas Pertahanan Indonesia), Iis Gindarsah (Peneliti, Center for Strategic and International Studies – CSIS), dan Dr. Ming-Hsien Wong (Ketua Graduate Institute of International Affairs and Strategic Studies, Tamkang University).

Tujuan dari diskusi Talking ASEAN kali ini adalah; untuk menggarisbawahi langkah bersama yang diambil ASEAN dan Uni Eropa dalam mengatasi ancaman keamanan non-tradisional dari terorisme; untuk memberkan rekomendasi yang bisa memperkuat kerja sama ASEAN dan Uni Eropa dalam isu terkait; untuk membahas mengapa Uni Eropa tidak berhasil mempengaruhi ASEAN; untuk membahas prospek kerja sama ASEAN dan Uni eropa; untuk mendiskusikan kepentingan isu keamanan non-tradisional di Asia Tenggara.

Dr. Felix Heiduk sebagai pembicara pertama mengajukan empat alasan mengapa Uni Eropa tidak mempu memberikan pengaruh pada ASEAN, salah satunya adalah ASEAN memiliki kekurangan pada institusi suprastrukturnya apabila dibandingkan dengan Uni Eropa, sementara itu Uni Eropa sendiri bersikap tertutup dalam memandang kemiripannya dengan ASEAN. Dr. Kusnanto Anggoro mengemukakan bahwa Uni Eropa memiliki beberapa keuntungan terkait pengalaman dan keahlian dalam menghadapi isu keamanan non-tradisional. Menariknya, Dr. Anggoro sendiri skeptis akan prospek kerja sama ASEAN dan Uni Eropa. Selanjutnya, Iis Gindarsah mengutip bahwa isu keamanan non-tradisional semakin menonjol di Asia Tenggara. Teakhir, Dr. Ming-Hsien Wong mengemukakan isu keamanan non-tradisional dari kacamata Taiwan. Bagi Taiwan yang menjadi ancaman keamanan non-tradisional sendiri adalah kejahatan transnasional, terorisme, keamanan informasi, perubahan iklim, penyakin epidemik, dan isu maritim.

berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

'