berita

Pada hari Jum’at, 28 Maret 2014, The Habibie Center mengadakan dialog Talking ASEAN untuk ketujuh kalinya. Talking ASEAN yang diselenggarakan bulan Maret 2014 bertemakan “Pemilu 2014 : Implikasinya dalam Kebijakan Luar Negeri Indonesia terhadap ASEAN” di The Habibie Center, Jakarta Selatan. Seri diskusi ini menghadirkan Hayono Isman yang merupakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Komisi I, Dr. Beginda Pakpahan, Pengajar, Departemen Hubungan Internasional, Universitas Indonesia, Lina Alexandra, MA, Peneliti Senior, Center for Strategic and International Studies (CSIS), dan Meidyatama Suryodiningrat, Pemimpin Redaksi, The Jakarta Post sebagai narasumber. Keempat narasumber membahas proyeksi kebijakan luar negeri ke depan.

Diskusi ini sangat relevan, karena pada 9 April 2014, 20,389 kursi legislatif akan diperebutkan di level lokal, provinsi, dan nasional, termasuk 692 kursi Dewan Pewakilan Daerah.  Ini kemudian akan diikuti pada Pemilihan Umum tanggal 9 Juli 2014 yang menentukan Presiden RI. Pemilu 2014 ini dilihat sebagai Pemilu yang akan menjadi titik balik sekaligus momen menentukan bagi Indonesia. Dikatakan titik balik karena Presiden SBY tidak akan lagi memimpin RI karena masa jabatan yang telah dijalankan selama dua periode. Kemudian, Pemilu juga dikatakan sebagai momen yang menentukan karena presiden, pemerintah, dan parlemen yang baru akan mengambil alih kekuasaan Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbanyak dan paling berpengaruh di ASEAN.

Dalam diskusi tersebut, salah satu panelis, Dr. Beginda Pakpahan, mengatakan bahwa Indonesia harus menjaga posisi kebijakan luar negeri untuk bebas aktif. Indonesia juga seharusnya tetap mempertahankan pola ‘dynamic equilbrium’ yang diterapkan di masa kepemimpinan Marty Natalegawa dalam Kementrian Luar Negeri. Indonesia harus menjaga keaktifan di ASEAN, khususnya untuk isu Hak Asasi Manusia dan demokrasi di Myanmar. Akan tetapi, ada kecenderungan kebijakan luar negeri Indonesia akan menyeimbangkan dengan konsolidasi internal, misalnya soal kesiapan Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN. Soal konsolidasi di tingkat internal ini juga dikatakan oleh pembicara lain, yakni Lina Alexandra. Lina mengatakan, ke depan, Indonesia mungkin akan lebih banyak berfokus pada isu-isu domestik daripada isu-isu luar negeri.

Sementara itu, Hayono Isman, mengatakan Indonesia secara alami adalah pemimpin di ASEAN tanpa harus mengklaim diri sebagai pemimpin di ASEAN. Kepemimpinan Indonesia pun, menurut dia, sudah teruji selama berpuluh tahun di ASEAN. Panelis yang lain, Meidyatama Suryodiningrat, mengatakan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia akan tergantung dari Menteri Luar Negeri yang ditunjuk, apakah dari partai politik atau profesional. Meidyatama mengatakan bahwa menteri dari kalangan partai politik pun hasilnya bisa bagus, asal didukung oleh profesional di belakang nteri tersebut.

Apakah kebijakan luar negeri ke depan akan ada perubahan ? Sebagian besar narasumber mengatakan kebijakan luar negeri ke depan lebih banyak akan melanjutkan kebijakan sebelumnya. Semangat profesionalisme juga diharapkan oleh pembicara dan perserta akan mewarnai kebijakan luar negeri Indonesia ke depan. Diskusi ini dihadiri oleh lebih dari 50 peserta dari kalangan diplomatik, akademisi, mahasiswa, dan juga media massa. Diskusi ini dibuka oleh Direktur Eksekutif The Habibie Center, Rahimah Abdulrahim, dan dipandu oleh Ray Hervandi, Associate Fellow The Habibie Center. Forum berjalan dinamis dengan berbagai penyataan dan komentar yang dilemparkan oleh peserta selama dua sesi tanya-jawab. (*)

berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

'