berita

Pada Hari Rabu, 8 Mei 2013, The Habibie Center mendapatkan kehormatan kunjungan dari Mahasiswa Pasca Sarjana, Sekolah Politik, Sejarah dan Hubungan Internastional, Universitas Nottingham, Malaysia. Kunjungan tersebut dilakukan dalam format sebuah acara diskusi mengenai kondisi politik Malaysia terkait dengan pemilihan umum yang  diadakan pada tanggal 5 Mei 2013, perubahan politk Indonesia-Malaysia dan isu Negara-Negara ASEAN.

Kunjungan tersebut dihadiri oleh Nur Ashikin Mohamad Taib (Mahasiswi Pasca Sarjana, berafilisiasi dengan Kementerian Luar Negeri), Julia Nourani (Mahasiswi Pasca Sarjana), Farah Norzam (Mahasiswi Hubungan Internasional), Wonh Mo Xiam (Mahasiswa S2, pegawai penghubung di Kementerian Luar Negeri), dan Shota Tohara (Mahasiswa Hubungan Internasional)

Sementara itu, acara kunjungan dan diskusi dibuka oleh Bapak Hadi Kuncara (Deputy Director of Operation for The Habibie Center) serta didampingi oleh  Muhammad Iqbal Qeis as (Communications Officer), Ibrahim Almuttaqi (ASEAN Studies Program Officer), Bawono Kumoro (Local Politics Researcher) and Inggrid Galuh M (National Violence Monitoring System Researcher).

Acara diskusi yang berlangsung kurang lebih 2 jam tersebut dimulai dengan pertanyaan yang diajukan oleh Ms. Nur Ashikin dan Ms. Julia Nourani mengenai pergerakan global terhadap moderat dan proses demokrasi di Myanmar. Pada kesempatan diskusi tersebut, Ibrahim AlMuttaqi mencoba meberikan respon terhadap pertanyaan tersebut dengan menjelaskan dilema yang dihadapi oleh ASEAN, dikarenakan keterbatasan kekuatan ASEAN seperti sama halnya peran THC dalam berkontribusi untuk ASEAN. Diskusi ini pun memfokuskan pada proyek NVMS dan keterbukaan data yang di dapat oleh NVMS di dalam proyeknya. Inggrid Galuh mecoba berdiskusi mengenai latar belakang beliau di NVMS dan proyek yang sejauh ini dilakukan oleh NVMS. Selanjutnya, diskusi ini pun membahas mengenai proses demokrasi Indonesia dan Malaysia. Dikarenakan kondisi pemilihan di Malaysia saat ini, topik ini dapat dibahas dan didiskusikan dari berbagai aspek.

Hingga pada akhir diskusi disimpulkan bahwa di kawasan ASEAN, demokratisasi masih menjadi kunci utama di setiap negara. Indonesia merupakan contoh yang baik dalam perubahan sistem yang otoriter menjadi sistem yang lebih demokratis. Bagaimanapun, Indonesia hanya bisa memberikan contoh praktek demokrasi kepada Negara lain, terlepas dari baik atau buruknya contoh tersebut. Indonesia sendiri masih berjuang untuk menjadi lebih demokratis dan tidak dapat memberikan pelajaran kepada Negara-negara lain karena proses tersebut memiliki trial and error sendiri-sendiri.

 

berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

'