berita

Jakarta, 29 Juni 2015

Hubungan antara Indonesia dan salah satu tetangganya, Australia, dalam beberapa waktu ke belakang tidak berjalan dengan mulus, walapun kedianya telah memiliki sejarah hubungan yang panjang di bidang perdagangan. Sebab dari retaknya hubungan tersebut adalah skandal spionase intelejen Australia yang muncul pada akhir 2013 lalu, terkait dengan Edward Snowden yang menyebarkan informasi tentang penyadapan telepon yang dilakukan oleh intelejen Australia terhadap Susilo Bambang Yudhoyono serta pengintaian terhadap perundingan perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Indonesia memberi tanggapan segera setelah skandal tentang mata-mata ini mencuat ke pemberitaan. Duta besar Indonesia untuk Australia, Ambassador Najip Riphat Koesoema telah ditarik kembali ke Indonesia. Faktanya, kasus penyadapan yang terjadi di atas hanyalah puncak dari gunung es; intelijen elektronik Australia dan Indonesia sendiri memiliki sejarah yang panjang, dan saat ini melibatkan operasi canggih dan intensif dengan sejumlah mata-mata yang berbasis di Australia. Adapun operasi tersebut berkaitan erat dengan mitra lain dari kerja sama “Five Eyes” untuk pengawasan elektronik global – Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Selandia Baru.

Menanggapi kasus yang terjadi,  menteri luar negeri kedua negara, Natalegawa dan Bishop berunding untuk memecah kebuntuan. Perundingan yang dilangsungkan berakhir dengan diumumkannya kode etik untuk kegiatan yang dilakukan Australia, meskipun tetap muncul keraguan bahwa kode etik ini akan mengubah apa yang dilakukan oleh pihak Australia.

Sebuah isu yang problematik seperti mengintai negara tetangga, khususnya pada pejabat-pejabat terasnya, memiliki potensi untuk semakin mengacaukan hubungan antara bilateral, dalam hal ini adalah Indonesia dan Australia, yang sebelumnya sudah kompleks. Seminar ini mengangkat pertanyaan bahwa tidak hanya mengenai apa yang telah dilakukan oleh Australia beserta mitranya dalam operasi ini, melainkan juga menjajaki kememungkinan penggunaan fasilitas Australia-Five Eyes untuk digunakan untuk membangun kerjasama bilateral antara Indonesia dan Australia yang lebih baik.

Tujuan dari seminar ini adalah: untuk membahas hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia setelah mencuatnya skandal pengintaian di atas; untuk mendiskusikan apa yang sebetulnya dilakukan oleh Australia beserta rekannya dalam skandal pengintaian yang terjadi; untuk mendiskusikan kemungkinan fasilitas yang dimiliki oleh Australia-Five Eyes digunakan untuk membangun kerjasama bilateral yang lebih kooperatif dan setara dalam hal kepentingan bersama Indonesia dan Australia; untuk meningkatkan pemahaman mengenai pendirian Indonesia terkait dengan isu ini.

berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

'