berita

Tahun 2015 telah berakhir, berganti memasuki tahun 2016. Awal tahun baru menjadi tradisi intelektual di kalangan akademisi untuk melakukan review kritis sejumlah bidang kehidupan berbangsa dan bernegara pada tahun sebelumnya sekaligus mengemukakan beberapa pandangan terkait outlook selama satu tahun ke depan.
Kegaduhan antar elit masih mewarnai kehidupan politik nasional sepanjang tahun 2015. Memasuki tahun 2015 kegaduhan antar elit langsung terasa di awal tahun ketika terjadi gesekan konflik antara Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Hal ini dipicu oleh polemik pencalonan Komjen Budi Gunawan sebagai kapolri. Pencalonan Komjen Budi Gunawan ditentang oleh KPK karena telah ditetapkan sebagai tersangka kasus tindak pidana korupsi.
Perombakan (reshuffle) kabinet di bulan Agustus juga sempat memunculkan kegaduhan di tingkat elite. Presiden Joko Widodo melakukan pergantian lima menteri dan satu pejabat setingkat menteri. Dalam melakukan reshuffle tersebut Presiden Joko Widodo mengakomodasi tekanan partai-partai koalisi pendukung pendukung pemerintahan, terutama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, dengan mendepak beberapa orang yang tidak memiliki back up politik kuat.
Kegaduhan antar elit paling hebat di bidang politik di tahun 2015 adalah kasus “Papa Minta Saham” melibatkan Ketua DPR Setya Novanto. Pengusutan yang dilakukan oleh Majelis Kehormatan Dewan berakhir anti klimaks. Putusan Mahkamah Kehormatan Dewan tidak secara jelas memutuskan apakah hal tersebut melanggar kode etik atau tidak. Mahkamah Kehormatan Dewan langsung memutuskan untuk menutup kasus tersebut setelah menerima surat pengunduran diri Setya Novanto. Ketua DPR dari Partai Golkar itu berkirim surat setelah sebelumnya sebagian besar anggota Mahkamah Kehormatan Dewan menilai Setya Novanto telah melakukan pelanggaran dalam kasus “Papa Minta Saham” PT Freeport diadukan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said.
Namun, di luar berbagai kegaduhan di atas ada catatan positif penting di bidang politik tahun 2015. Pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak untuk kali pertama berlangsung relatif lancar dan damai. Dari sisi keamanan, potensi gejolak dan konflik sosial yang ditenggarai terjadi di beberapa daerah, tidak terjadi. Dari sisi waktu pelaksanaan, pemungutan suara pun dapat dilakukan sesuai jadwal meski ada lima daerah yang harus mengalami penundaan.
Kemudian di bidang ekonomi hampir sepanjang tahun 2015 terjadi pelambatan ekonomi dan pelemahan nilai tukar rupiah. Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi triwulan II tahun 2015 sebesar 4,67 persen. Angka itu lebih rendah jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan I tahun 2015, sebesar 4,72 persen dan triwulan II tahun 2014 sebesar 5,03 persen.
Selain pelambatan pertumbuhan ekonomi, Indonesia juga mengalami pelemahan nilai tukar rupiah. Berdasarkan data Bank Indonesia, di sepanjang kuartal II tahun 2015 rupiah secara rata-rata melemah sebesar 2,47 persen dibanding kuartal terdahulu dengan rata-rata nilai tukar di angka Rp 13.131 per dollar Amerika Serikat. Bahkan, nilai tukar rupiah sempat merosotan tajam mencapai level Rp 14.014 per dollar Amerika Serikat pada Agustus lalu.
Pada bidang hubungan luar negeri, 2015 ditandai dengan perayaan KAA ke-60 dan peluncuran Masyarakat Ekonomi ASEAN. Menteri Luar Negeri Indonesia memfokuskan pada penegakan kedaulatan Indonesia, perlindungan WNI di luar negeri, promosi diplomasi ekonomi dan peningkatan peran Indonesia baik secara regional maupun internasional. Selain prestasi pada bidang hubungan luar negeri, terdapat beberapa hal yang menjadi perhatian diantaranya adalah kebijakan penenggelaman kapal yang memicu kemarahan negara tetangga, pemilihan Cina sebagai kontraktor proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dibanding Jepang dan pemberian kewenangan menteri-menteri untuk menjalankan hubungan bilateral dengan negara kunci yang berbenturan dengan peranan kementerian luar negeri. Tensi yang meningkat antara Saudi Arabia-Iran, konflik Semenanjung Korea, dan ISIS menjadi ancaman tersendiri bagi stabilitas perdamaian pada tahun 2016. Indonesia pun menyatakan kontribusinya untuk senantiasa mendukung upaya penyelesaian konflik Laut Cina Selatan dan kemerdekaan Palestina.

berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

'