berita

 

Jakarta, 25 Agustus 2015

Subsidi BBM merupakan salah satu permasalahan penting sekaligus dilematis dalam mengelola perekonomian Indonesia. Sejak pemerintahan Presiden Soekarno, Presiden Soeharto, Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie, Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Megawati Soekarnoputri hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) permasalahan subsidi BBM menjadi permasalahan pelik untuk diselesaikan. Permasalahan terkait dengan anggaran sering kali mengemuka dalam isu subsidi BBM di Indonesia.

Pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo mengambil keputusan untuk melakukan reformasi dengan mencabut subsidi BBM untuk kemudian dialihkan kepada sektor-sektor lebih produktif, seperti pembangunan infrastruktur, subsidi kepada petani dan nelayan serta pembangunan energi baru terbarukan. Kebijakan tersebut dilakukan karena selama ini pemberian subsidi BBM dianggap salah sasaran dan membebani anggaran pemerintah.

Untuk itu The Habibie Center pada Selasa 25 Agustus 2015 mengadakan “Dialog BBM dan Reformasi Energi” untuk memperoleh informasi dan terkait alokasi dan realokasi anggaran subsidi BBM. Diskusi ini juga dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana usaha dan kebijakan telah dilakukan pemerintah dalam membangun dan mengembangkan energi alternatif di Indonesia. Pascapencabutan subsidi BBM tentu diharapkan pengembangan energi alternatif dapat berjalan dengan baik. Acara “Dialog BBM dan Reformasi Energi” merupakan langkah konkret dalam upaya memberikan masukan kepada pemerintah untuk mencari solusi terbaik bagi masalah BBM dan pengembangan energi alternatif lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Dialog ini menghadirkan Rida Mulyana (Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM), Askolani (Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan), Komaidi Notonegoro (Direktur Eksekutif Reforminer Institute), Arya Rezavidi (Anggota Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia) sebagai narasumber dan Zamroni Salim Peneliti Senior The Habibie Center dan Pusat Penelitian Ekonomi LIPI) sebagai moderator.

Tujuan “Dialog BBM dan Reformasi Energi” adalah untuk menjaring berbagai masukan dari stakeholders terkait realokasi anggaran subsidi BBM dan pengembangan energi alternatif di Indonesia. Tujuan acara tersebut secara lebih rinci adalah sebagai berikut: untuk mengetahui dan mengkaji realokasi anggaran subsidi BBM; untuk mengkaji sektor-sektor produktif yang menjadi prioritas realokasi anggaran; mengkaji sejauh mana realokasi anggaran dan sektor-sektor produktif tersebut dilaksanakan; untuk mengkaji sejauh mana pengembangan energi alternatif bersifat terbarukan telah dilaksanakan; untuk mengkaji jenis energi alternatif telah ada dan pengembangannya.

berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

'