berita

Pada Hari Rabu, 4 Juni 2013, The Habibie Center mengadakan diskusi yang berjudul “15 Years of Reformasi thorugh Foreign Eyes.  Tujuan diskusi ini adalah untuk mengumpulkan orang asing yang tinggal di Indonesia selama era reformasi dan mendengar perspektif unik mereka dalam proses demokratisasi Indonesia sejak 1998 dan mendiskusikan efek reformasi dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi para orang asing dan lingkungan sekitar mereka.  Acara ini merupakan bagian dari rangkaian acara @15thnReformasi.

 

Sesi ini dimoderasi oleh Rahimah Abdulrahim (Direktur Eksekutif, The Habibie Center) dan menampilkan Kevin Evans (UNDP), Dr. Douglas Ramage (Bower Group Asia), Daniel Ziv (Penulis dan Pembuat Film “Jalanan”), Scott Cunliffe (Country Director, Search for Common Grounds) dan Dr. Satish Mishra (Managing Director, Strategic Asia).

 

Diskusi yang terfokus pada sejauh mana pencapaian politik Indonesia pasca reformasi ini dibuka oleh Rahimah Abdulrahim kemudian dilanjutkan dengan mengenalkan panelis yang telah lebih dari 15 tahun tinggal di Indonesia untuk menyampaikan pengalaman, pendapat, pencapaian dan perspektif (positif dan negatif) mengenai perkembangan Indonesia pasca reformasi.

 

Kevin Evans dari UNDP pada presentasinya mengatakan kepada peserta tentang pengalamannya sendiri selama kerusuhan 1998. Beliau juga memaparkan tentang pandangannya mengenai korupsi di Indonesia dan bagaimana politik di Indonesia berkembang setelah masa Krisis Keuangan Asia.

 

Sesi ini berlanjut dengan presentasi dari Dr Douglas Ramage. Dr Ramage menjelaskan aspek positif dan negatif yang terjadi pada Indonesia setelah adanya reformasi. Aspek positifnya adalah bahwa organisasi Islam seperti NU, Muhammadiyah dan Gus Dur sendiri memiliki peranan yang penting dalam sejarah. Lebih jauh, B.J. Habibie memberikan upaya untuk membuat reformasi menjadi nyata dan terbukti dari adanya perkembangan budaya yang berkembang pesat. Sisi negatifnya adalah munculnya nasionalisme ekonomi yang mengkhawatirkan beberapa pihak, kerumitan dalam peradilan, pelayanan umum dan keamanan.

 

Setelah Dr. Ramage menjelaskan tentang pandangannya, Daniel Ziv menjelaskan tentang pekerjaan pertamanya di Indonesia. Daniel Ziv memulai pekerjaan di Indonesia sebagai wartawan untuk sebuah koran Inggris. Dia menjelaskan tentang perubahan sosial budaya di Indonesia dan menyatakan bahwa B.J. Habibie adalah seorang pelopor reformasi yang baik. Daniel Ziv juga menjelaskan bahwa Reformasi telah menciptakan perubahan yang lebih baik dan dia bersikeras bahwa Reformasi bukanlah ideologi, melainkan merupakan bagian dari proses menuju demokratisasi.

 

 

Sesi ini kemudian dilanjutkan dengan penjelasan dari Scott Cunliffe. Scott Cunliffe menjelaskan bahwa ada banyak prestasi sejak tahun 1998 termasuk di bidang hak asasi manusia yang telah terjadi di Indonesia. Salah satu contoh yang dijelaskan adalah fakta bahwa ada banyak penerbangan murah yang menghubungkan seluruh Indonesia dan hadiah yang terindah untuk Timor Timur setelah referendum adalah demokrasi.

 

Dr Satish Mishra memaparkan tentang bagaimana Indonesia telah berkembang sangat pesat sejak reformasi. Dari sudut pandang Dr Mishra, ada lebih banyak perubahan yang baik yang dibawa oleh reformasi dilihat dari perubahan sistem politik. Namun, Dr. Mishra memperingatkan kita tentang politik transaksional dan fakta bahwa kurangnya perhatian yang diberikan untuk ketidakadilan ekonomi dan ketidaksetaraan.

 

Setelah masing-masing panelis selesai memaparkan pemikiran dan pengalamannya, sesi ini dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Sesi ini dimulai dengan Prof. Dewi Fortuna Anwar yang berkomentar pada asumsi bahwa reformasi di Indonesia terjadi begitu saja dan hanya merupakan fase trial and error.  Peserta yang lain juga bertanya tentang korupsi di Indonesia, sektor pembangunan serta sistem identifikasi agama di Indonesia. Para panelis sepakat bahwa saat ini negara gagal melindungi agama minoritas dan Daniel Ziv secara khusus mengatakan bahwa agama harus disimpan dalam ruang privat. Kevin Evans mengingatkan bahwa sangat ironis bahwa rakyat Indonesia “dipaksa” untuk mengikuti enam agama yang diakui di Indonesia dan mengesampingkan agama-agama / praktek-praktek spiritual lokal.

 

Talkshow berakhir setelah dua jam dan berlangsung aktif dimana panelis dan penonton sama-sama melibatkan diri secara aktif dalam diskusi. Rahimah Abdulrahim mengakhiri talkshow dengan mengucapkan terima kasih kepada  para panelis dan memberikan buku”Demokrasi Take-Off: The BJ Habibie Period” sebagai hadiah.

berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

'