berita

Pada hari Selasa 28 May 2013, FISIP UIN Syarif Hidayatullah bekerja sama dengan The Habibie Center mengadakan seminar internasional yang berjudul “15 Tahun Reformasi Untuk Semua: Meningkatkan Perlindungan Pekerja Migran pada Era Globalisasi” yang diadakan di Gedung FISIP UIN, Ciputat, Banten.  Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian acara pekan @15thnReformasi.

Seminar ini dibagi menjadi dua sesi.  Sesi pertama fokus kepada trend yang ada di migrasi internasional dan tantangan/rintangan yang dihadapi.  Pembicara pada sesi pertama terdiri dari Bapak Ahmad Badri Ismail (Atase Buruh, Kedutaan Malaysia), Bapak Hendra Adi (Counter Trafficking and Labor Migration Unit, IOM), Bapak Thaufiek Zulbahary (Counter Trafficking and Labor Migration Unit, IOM), dan Dra. Tri Nuke Pujiastuti (Peneliti, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, P2P-LIPI).  Sesi ini dimoderasi oleh Dr. Zamroni Salim.

Sesi pertama dimulai dengan penjelasan dari Bapak Ahmad Badri Ismail dengan presentasi mengenai status pekerja migran di Malaysia.  Bapak Ahmad Badri Ismail menjelaskan mengenai sejarah dan keadaan pekerja migran asing.  Dari penjelasan Bapak Ahmad Badri Ismail, dapat disimpulkan bahwa masalah dari pekerja migran di Malaysia adalah meningkatnya jumlah pekerja yang tidak terdaftar.

Sesi kemudian dilanjutkan dengan pembicara kedua dan ketiga Bapak Hendra Adi dan Bapak Thaufiek Zulbahary dari International Organization for Migration dengan topik “Tren Migrasi Tenaga Kerja di Indonesia: Peluang dan Tantangan”. Bapak  Hendra Adi menjelaskan kepada peserta seminar tentang sejarah migrasi Indonesia, faktor pendorong migrasi serta kerangka hukum dan tren yang berkembang. Setelah presentasi dari Bapak Hendra Adi, Bapak Thaufiek Zulbahary melanjutkan penjelasannya dengan menghadirkan penjelasan tentang konvensi ILO dan poin penting dalam konvensi yang diperlukan untuk merevisi RUU yang dibuat oleh DPR mengenai undang-undang tentang pekerja migran. Dari sesi ini, Bapak Zamroni Salim menyimpulkan bahwa ada banyak tantangan mengenai migrasi dan harus ada solusi untuk tantangan tersebut dalam jangka panjang.

Sesi ini berlanjut dengan penjelasan dari Dra Tri Nuke Pujiastuti tentang viktimisasi sistematis Buruh Migran Indonesia. Di sini, Dr Tri Nuke Pujiastuti menjelaskan tentang kondisi sosial dan keluarga yang dihadapi oleh buruh migran perempuan. Dra. Pujiastuti menjelaskan bahwa kerugian yang dialami oleh buruh perempuan beragam mulai dari kemiskinan, pendidikan yang rendah, pembangunan industri yang mengesampingkan orang-orang dengan keterampilan rendah dan poligami dilakukan oleh suami buruh migran perempuan. Dra. Tri Nuke Pujiastuti kemudian menjelaskan bahwa tantangan masa depan akan melibatkan bagaimana Indonesia akan melihat isu-isu mengenai buruh migran dari perspektif kemanusiaan.

Seminar dilanjutkan dengan sesi kedua dengan tema “Memastikan 15 Tahun Reformasi untuk Semua: Meningkatkan Upaya Internasional, Regional dan Nasional untuk Perlindungan Hak-hak Pekerja Migran”. Pada sesi kedua ini pembicara yang terlibat adalah Dr Servolus (BNP2TKI) dan Ibu Iim Halimatussa’diah (Dosen, Jurusan Sosiologi, FISIP UIN Syarif Hidayatullah) dan dimoderatori oleh Ibu Mutiara Pertiwi (Dosen, Jurusan Hubungan Internasional, FISIP UIN Syarif Hidayatullah). Sesi kedua tidak hanya terfokus pada aspek prosedural pengiriman dan perlindungan TKI tetapi juga difokuskan pada aspek sosial dan psikologis anak dari orang tua pekerja migran. Dr. Servolus menjelaskan tentang sistem online terutama untuk mengidentifikasi orang-orang yang bekerja di luar negeri dan salah satu prosedurnya adalah KTKLN (Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri – Kartu untuk Pekerja Luar Negeri) dan membuat prosedur yang jelas dalam hal perekrutan tenaga kerja. Upaya lain yang dilakukan oleh BNP2TKI adalah untuk mengembangkan hubungan bilateral antar negara pengirim, negara penempatan dan negara-negara pengguna. Sampai sekarang, menurut Dr. Servolus, BNP2TKI sedang menunggu hasil dari DPR untuk RUU Perwakilan tentang penempatan.

Sesi ini berlanjut dengan presentasi dari Ibu Iim Halimatussa’diah pada aspek keluarga anak-anak pekerja migran. Iim Halimatussa’diah menguraikan bahwa dampak migrasi pada keluarga sangat bervariasi dan yang paling terpengaruh secara emosional adalah anak-anak yang ditinggalkan oleh orang tua mereka (khususnya ibu). Ibu Iim Halimatussa’diah dibandingkan tiga negara ASEAN (Filipina, Thailand, Indonesia) di mana buruh migran perempuan dan dari perbandingan itu, ditemukan bahwa anak-anak di Filipina tidak mengalami gangguan emosional sedangkan anak-anak di Indonesia dan Thailand mengalami gangguan emosi.

Sebagian besar pertanyaan di sesi pertama umumnya berkisar tentang perdagangan manusia, isu buruh migran di Malaysia, birokrasi dalam proses penempatan serta kemungkinan untuk proses pengadilan. Sedangkan untuk sesi kedua, pertanyaan berkisar seputar contoh kasus yang terjadi pada buruh migran seperti kehamilan yang tidak diinginkan, peran BNP2TKI dan revisi RUU buruh migran.

Bapak Zamroni Salim menutup sesi pertama dengan menyimpulkan tentang peningkatan tenaga kerja dan kurangnya perlindungan tenaga kerja sedangkan Ibu Mutiara Pertiwi memberikan rekomendasi tentang pentingnya keluarga pekerja migran untuk bersatu kembali dan untuk mulai mencurahkan perhatian pada anak-anak tanpa kewarganegaraan yang dihasilkan dari kehamilan yang tidak diinginkan.

berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

'