
Edy Tri Baskoro dipilih oleh dewan juri karena kontribusinya yang signifikan dalam pemecahan permasalahan derajat/diameter dalam teori graf. Permasalahan ini terkait erat dengan perancangan jaringan interkoneksi sistem komputasi paralel. Komputasi paralel adalah salah satu alat fundamental dalam Sains Komputasi (Computational Science) yang saat ini sangat dibutuhkan oleh peneliti dalam memecahkan permasalahan science dan engineering yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan, seperti investigasi saintifik tentang proses biokimia pada otak manusia dan gaya fisika fundamental yang membentuk alam raya, analisis penyebaran penyakit menular, genome project dan protein folding.
Menurut pemegang doktor dari University of Newcastle Australia ini, dengan komputasi paralel, peneliti dimungkinkan untuk melakukan simulasi, visualisasi, dan perhitungan numerik lanjut dari permasalahan tersebut. Problem derajat/diameter berkaitan dengan permasalahan pengkonstruksian suatu sistem komputasi paralel (yang dimodelkan sebagai graf) yang terdiri atas ribuan atau bahkan jutaan prosesor sedemikian sehingga setiap prosesor mempunyai jumlah port (derajat) yang terbatas dan mempunyai waktu komunikasi (diameter) antar-prosesor yang singkat.
Nurul Taufiqu Rochman dipilih oleh dewan juri karena dinilai sukses mengembangkan nanoteknologi dalam bidang teknologi perpipaan di Indonesia. Nurul yang meraih gelar doctor dari Kagoshima University Jepang, itu mengembangkan berbagai peralatan milling ”made in Glodok” untuk keperluan riset dan memproduksi berbagai jenis nanopartikel dari mineral alam Indonesia. Dari peralatan yang diciptakan, Nurul bersama timnya telah mempublikasikan puluhan karya ilmiah nasional dan internasional di samping 11 Paten dan Hak Cipta (di antaranya 1 paten Jepang yang telah diterapkan di Perusahaan Kyushu Tabuchi sejak 2003).
Nurul berhasil menemukan teknologi eliminasi unsur berbahaya Pb pada paduan tembaga. Unsur Pb pada paduan logam menjadi pusat perhatian industri dunia karena telah diberlakukannya peraturan global tentang pelarangan unsur tersebut yang mengakibatkan berjuta-juta ton pipa-pipa air dan peralatan rumah tangga harus diganti dan menjadi skrap (barang bekas) yang tidak bisa didaur ulang lagi atau menjadi limbah industri.
Sedangkan Ajip Rosidi dinilai berjasa dalam pengembangan kebudayaan. Dengan usaha yang tidak kenal lelah, Ajip telah memajukan sastra Sunda dalam tataran internasional. Karena usahanya ia diangkat sebagai Visiting Professor pada Osaka Gaikokugo Daigaku di Osaka Jepang (sampai 2003), menjadi Guru Besar Luar Biasa pada Tenri Saigaku (1983-1994) di Tenri Nara, menjadi Gurubesar Luar Biasa pada Kyoto Sangyo Daigaku (1983-1996) di Kyoto (1983-1996). Tahun 2001, Ajip Rosidi memprakarsai diselenggarakannya Konferensi Internasional Budaya Sunda (KIBS) di Bandung dan mendirikan Pusat Studi Sunda (PSS) pada 2002.
Ajip menaruh perhatian yang tinggi terhadap pengembangan kebudayaan Sunda. Sebagai bentuk perhatiannya terhadap kehidupan sastera Sunda maka sejak tahun 1989, Ajip Rosidi mempelopori Hadiah Rancagé (Rancage Award) kepada penulis yang bukunya dalam bahasa Sunda, baik berupa roman, kumpulan cerpen, maupun puisi, dianggap terbaik dan kemudian diterbitkan.
Penerima Habibie Award masing-masing akan menerima piagam, medali emas, dan uang tunai sebesar US$ 25.000 dipotong pajak.